Namun, zaman berubah. Informasi tidak lagi hanya tersimpan di kepala guru. Dengan sekali klik, murid bisa mengakses perpustakaan dunia.
Maka, hapuslah kata "vs" (melawan) dari relung hati kita. Gantilah dengan "dan" (bersama). Karena tujuan akhir pendidikan bukanlah kemenangan salah satu pihak, melainkan lahirnya manusia yang merdeka—merdeka dari kebodohan, dan merdeka dari tirani otoritas. guru vs murid
Dalam ruang kelas yang hening, atau di tengah hiruk-pikuk diskusi, terdapat dua kutub yang tak terpisahkan: Guru (yang memberi ilmu) dan Murid (yang mencari ilmu). Secara etimologis, hubungan ini indah. Namun dalam praktiknya, sering kali bergeser menjadi sebuah pertarungan: "Guru versus Murid." Namun, zaman berubah
"Guru vs Murid" seharusnya bukanlah battle (pertempuran), melainkan sebuah duet . Ketika seorang murid bertanya, "Mengapa?" itu bukan perlawanan, itu adalah puncak dari rasa ingin tahu. Ketika seorang guru mengakui, "Saya tidak tahu," itu bukan kelemahan, itu adalah keberanian untuk belajar bersama. Maka, hapuslah kata "vs" (melawan) dari relung hati kita
Dalam dunia modern, peran guru bergeser dari sage on the stage (bijak di atas panggung) menjadi guide on the side (pemandu di samping). Murid bukanlah wadah kosong, melainkan sumber api yang harus dinyalakan.